Buya Hamka & Ananta Toer Era Reformasi: Membahas Dunia Pendidikan Hingga Suksesnya Ariani di AGT

Bagikan artikel ini

 

Tulisan perdebatan di bawah ini tampak seperti sebuah skenario dari dua sahabat yang ingin memuluskan jalan ke arah perbaikan mutu layanan pendidikan. Arahnya  untuk pendidikan yang lebih baik. Ini murni tanpa rekayasa, yang meluncur begitu alami. Padahal penulis tidak mau melayani diskusi di ranah WA group. Maka dalam diskusi ini, lebih cenderung mengalah. Lain halnya jika di ranah resmi. Tapi tampaknya sang debater begitu antusias:

“Pak Dedi gak kira kira membohongi kadisdik tentang kesuksesan projek bilingual kabupaten yang digagas pak Rusdi mantan kadisdik Bekasi. Sampai saat ini saya tidak menemukan satupun guru non bahasa Inggris yang mampu menyelenggarakan pembelajarannya pake bahasa Inggris dan Indonesia, kalaupun ada itu tak signifikan dengan jumlah guru SMA Negeri se kabupaten Bekasi. Dari mana bisa menarik kesimpulan dan mengklaim projek bilingual sukses? Saat PPDB rapat di hotel lembang saya tanya pak Rusdi di parkiran, sebenarnya bapak pernah buat study kelayakan tentang kebijakan sekolah bilingual atau belum? Apakah bapak tahu kemampuan berbahasa Inggris guru guru pengajar SMAN di Bekasi? Pak Rusddi diam seribu bahasa, artinya program itu asal asalan dan jauh dari berhasil. Kalau berhasil secara signifikan pasti berlanjut. Mengerikan sekali seorang doktor mengambil kebijakan gegabah, tak ilmiah lagi.”

Penulis menjawab:
“Terima kasih pak Haji🙏🏻🙏🏻🙏🏻 Jika berkenan komentarnya di tulis di ruangan komentat Faktanya.id. Biar ada bahan bandingan bagi para pembaca. Saya sangat menghargai perbedaan pendapat.💪🏿🙏🏻”

Dikira dengan jawaban itu pembicaraan bisa selesai. Tapi di jawab sang debater dengan nada yang lebih seru. Seperti komentar berikut ini:
“Saya tidak menghargai kebohongan, kejujuran itu penting di dunia pendidikan. Pak Dedi bisa buktikan keberhasilan program bilingual pak Dedi apalagi diungkap dalam tesis? ”

Penulis menganggap kisah ini, seperti kisah Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo, dengan sastrawan Ananta Toer (persi era reformasi). Padahal pada kisah tokoh bangsa di atas, lawannya adalah Kyai yang populer dengan nama penanya Hamka. Beliau adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia. Bahkan  Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Seperti halnya Pramoedya Ananta Toer, yang secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Intinya mereka adalah tokoh panutan bangsa Indonesia.

Kita lanjutkan perdebatan tentang program Kelas Bilingual, yang persepsinya berbeda, seperti kisah Hamka & Ananta Toer diatas. Mungkin ini hanya sebuah persi kesalah pahaman terhadap evaluasi  program pendidikan di era reformasi dewasa ini. Semoga kelak berujung harmoni seperti kisah para leluhur di atas. Perbedaan itu sbb:
“Kapan penelitian tentang sekolah bilingual dilakukan di kabupaten Bekasi saat itu? Sekolah mana saja yang jadi tempat penelitian? Berapa sample yang dipakai? Ada berapa instrumen yang digunakan sehingga sampai pada kesimpulan? Validitas dan reabiliatas instrumennya benar sudah teruji?”

“Berbohong itu harusnya aib, RSBI itu menodai riwayat penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. RSBI dibubarkan walaupun itu ada di sisdiknas karena banyak keluhan atas kekacauan penyelenggaraannya. Bahkan diplesetkan jadi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional sementara mutu lulusan tak sesuai harapan.”

Memjawab saran di atas penulis menyampaikan pesan bahwa  “Riset itu tidak boleh bohong. Tapi mungkin hasilnya keliru. Riset harus dijawab dengan riset” Tampaknya sang debater ingin memancing para pembaca dengan menyodorkan kalimat “Makanya jangan biasakan bohong, coba buktikan disertasi pak Dedi tentang sekolah bilingual ide pak Rusdi. Tampilkan bab pada disertasi yg membahas sekolah bilingual, analisis statistiknya sertakan, bisa?”

“Bukan cover, Gak minta cover saya” “Kalau ini riset doktoral mengapa bilingual dibubarkan tidak dilanjutkan? Pak Dedi punya draft study kelayakan pak Rusdi tentang bilingual ini?”
“Harusnya draft study kelayakan pak Rusdi jadi bagian disertasi dan itu dianalisis. Kelas mana disekolah mana yang sukses melaksanakan pembelajaran bilingual? Guru agamanya jangan jangan malah trilingual🤭 karena saat bahas Quran dan hadist pake bahasa arab tentu”

“Ada berapa guru diluar guru bahasa Inggris yang punya kemampuan berbahasa Inggris dengan score Toefl diatas 500? Ada datanya dalam disertasi?”

“Disertasi harusnya bukan karya yang diwarnai halusinasi, kalau imajinasi boleh. Imajinasi adalah bagian dari berpikir kritis. Dengan imajinasi kita bisa menghadirkan situasi kondisi kapanpun baik itu masa lalu maupun masa yang akan datang saat sekarang. Berbekal imajinasi itulah maka syukur apabila dihasilkan narasi baru atau setidaknya melengkapi narasi masa lalu atau masa akan datang yang disiapkan. Kalau itu ada maka itu contoh buah dari berpikir ilmiah.”

“Contoh sebagai guru sejarah pak Anwar paham tentang peristiwa G 30 S PKI, tetapi pak Anwar kemudian membaca buku Johnn Rossa dan Ulf Sundhausen misalnya. Setelah membaca dua buku pak Anwar menemukan fakta baru yang bertentangan dengan pemahaman lamanya. Maka pak Anwa bisa mempunyai pemahaman baru setelah membandingkan dua fakta dengan kritis, pak Anwar telah mempraktekan berpikir kritis. Ngerti ora son?”

Akhirnya ada anggota group yang terpancing. Dan tulisan ini, mengakhiri diskusi

“Lidah ( juga jari jemari) adalah ukuran untuk menilai kesombongan, kebodohan dan kemunafikan seseorang.Juga menjadi timbangan untuk mengetahui kecerdasan, kedewasaan,serta kebijaksanaan seseorang. Ya Rabb,bimbing lidah dan jemari kami.Aamin”

Sang debater menjawab dengan santun “Aamiin yaa rabb”. Padahal riset diatas bukan hanya masalah program bilingual, tapi juga program CI dan BI. Mungkin diskusi akan lebih seru jika nyambung dengan kisah Ariani yang mendapat royalty  7 trilyun /bulan. Hal ini karena bakat istimewanya berhasil di festival AGT.  Untuk itulah kini saat yang tepat bagi dunia pendidikan, mengangkat isu  bakat khusus atau Bakat Istimewa. Seperti program kelas CI dan BI. Ini adalah kesempan emas untuk unjuk gigi. Terutama bagi para pengelola pendidikan yang berjiwa muda.

Para kepala sekolahpun, sengaja  penulis wawancarai dan videonya diangkat ke channel youtube. Hasilnya spektakuler hingga 2 channel bisa monetisasi. Dari subsribe 300 hingga ribuan. Bahkan konten itu ada yang tembus sampai 40 ribu kali ditonton. Sayangnya penulis sedang sibuk mengikuti acara kerjasama dengan UNESCO di Buah Batu, Bandung. Seperti tampak dalam video cuplikan di bawah ini.

Masalah diskusi di atas tidak bisa ikut lebih dalam. Jadi hanya bisa membuat tulisan ini saja, untuk sementara waktu. Itupun hanya dalam waktu darurat.

Riset yang penulis paparkan di atas bisa jadi acuan dasar. Dan bisa disangkal. Karena riset yang dibuat itu mengejawantahkan teori model CIPP. Teori yang dibuat pada tahun 1960-an oleh Daniel Stufflebeam dan dianggap sebagai model berorientasi keputusan yang secara sistematis mengumpulkan informasi tentang suatu program untuk mengidentifikasi kekuatan dan keterbatasan. Terutama dalam konten atau penyampaian, untuk meningkatkan efektivitas program atau merencanakan masa depan suatu program. Wajar jika Dr.Rizqiono & Dr.Rusdi Biomed duduk paling depan saat sidang terbuka masalah ini. Dan mereka sedikit menyampaikan koreksinya.

Video dibawah ini, bisa jadi rujukan pentingnya dibuka lagi program kelas CI dan BI dengan formula baru. Program yang selaras di era reformasi prndidikan.

Mungkin ditahun 2023 ini ada teori yang lebih baik. Untuk melakukan riset yang melengkapi teori CIPP dari Stuffle Beam di atas. Wallohualam (Waglo).

 

NB:

https://www.kompasiana.com/drh35864/6490aedf10d8e07241530512/bakat-istimewa-putri-ariani-di-agt-membuka-pentingnya-mengkaji-evaluasi-progran-ci-bi-bilingual?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

 

 

 

One thought on “Buya Hamka & Ananta Toer Era Reformasi: Membahas Dunia Pendidikan Hingga Suksesnya Ariani di AGT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *